Friday, 15 June 2018

Cerita Motivasi Andrew Darwis Pendiri Kaskus

·   0
Cerita Motivasi Andrew Darwis Pendiri Kaskus. Apakah agan pernah mengunjungi situs komunitas terbesar di Indonesia yakni Kaskus? Atau apakah agan sebenarnya merupakan salah satu kaskuser? Jika ya, tentunya agan familiar dengan mimin Andrew Darwis, Founder Kaskus. Pria kelahiran Jakarta, 20 Juli 1979 ini awalnya berkuliah di jurusan Sistem Informasi Binus University (1998). Namun, karena Andrew memiliki passion yang besar di multimedia - web design, dan jurusan tersebut masih jarang di Indonesia kala itu, maka ia memutuskan untuk berkuliah di Art Institute of Seattle dengan mengambil spesialisasi bidang multimedia & web design. Orang tua Andrew berpendapat bahwa biaya kuliah di luar negeri sangat mahal. Ia diizinkan berkuliah di Seattle asal membiayai kuliahnya sendiri. Untuk mencari nafkah di negeri Paman Sam tersebut, Andrew bekerja serabutan dengan menjadi kasir, tukang fotocopy, bekerja di perpustakaan dan computer lab.

Cerita Motivasi Andrew Darwis Pendiri Kaskus


Kaskus, Tugas Kuliah Terindah bagi Andrew Darwis

Tugas kuliah kadang menjadi beban tersendiri bagi para mahasiswa. Namun, hal itu tidak berlaku bagi pensiunan mahasiswa yang menggeluti passionnya, Andrew Darwis. Pada tahun 1999, Andrew ditugaskan oleh dosennya untuk membuat website. Ide membuat website berbasis komunitas pun terlintas di benaknya. Apalagi, kerinduannya terhadap tanah air kian besar. Dengan begitu, website komunitas tersebut ia tujukan kepada mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di luar negeri. Pada 6 November 1999, Kaskus (Singkatan dari Kasak Kusuk yang berarti bergosip) pun resmi berdiri dengan server bermodalkan US$3 kala itu.

Perjalanan Kaskus di kancah Startup Indonesia

Lantas, apa yang membuat Kaskus bertahan dan berkembang dari 1999 hingga sekarang?
Dalam salah satu acara talkshow, Andrew pernah menyatakan bahwa Kaskus menerapkan Zero Budget Marketing (Pemasaran dengan biaya nol rupiah). Sebenarnya, ia ingin menggelontorkan dana yang besar untuk marketing Kaskus. Namun, apalah daya, “tidak ada duit”, candanya. Andrew percaya bahwa Kaskus bisa besar jika memiliki konten yang banyak, dan user yang diberi freedom of speech (dengan tanggung jawab pastinya).

Dalam kurun waktu 1999 hingga 2007, Kaskus belum dibawa ke jenjang yang lebih serius oleh Andrew Darwis. Ia juga menggeluti Kaskus karena hanya sekedar hobby dan tidak membayangkannya akan menjadi sebesar ini. Bagi Andrew, kebahagiaan memperoleh visits dan memperoleh beberapa dollar dari Google Adsense sudah cukup untuknya. Andrew juga sudah sangat nyaman dengan pekerjaan yang ia miliki di Amerika. Pada tahun 2008, si pembawa berita bahagia, Ken Dean Lawadinata (Sepupu Andrew Darwis) menyampaikan kabar bahwa Kaskus sangat happening di Indonesia. Ken mengajak Andrew untuk kembali ke Indonesia dan ‘menjalin’ keseriusan dengan Kaskus. Rela meninggalkan zona nyamannya, Andrew pun bersedia kembali ke Indonesia. Akhirnya, duet Andrew dan Ken mengembangkan Kaskus terbilang sukses. 
Pada suatu titik di tahun 2010, Andrew menyadari bahwa sudah banyak situs berita yang hadir di Indonesia, seperti Viva news dan Okezone. Situs-situs tersebut dibacking oleh para pengusaha besar dan konglomerat Indonesia. Andrew berpikir jika Kaskus ingin bertahan lama, maka Kaskus sebaiknya memperoleh backingan dari grup besar juga. 

“Tahun 2010 ya, itu mulai banyak kan dot com dot com tapi dalam bentuk media, ya. Ada okezone, ada juga viva news, segala macem. Dan mereka semua dibackup sama perusahaan besar. Dan kita bilang ni Kaskus kalo mau bisa stay long tahan lama, kita harus punya backingan dari grup besar juga. Dan kita beruntung banget, Pak Martin (Djarum) sekarang jadi salah satu partner kita juga, itu benar-benar percaya sama kaskus. Dia bilang ini Kaskus salah satu brand di Indonesia yang bener-bener punya loyalitas tinggi. Pas ketemu juga kita punya visi yang sama.”

Sudah hampir 19 tahun, Kaskus menjadi ajang bertukar informasi, cerita, barang (dengan adanya Forum Jual Beli), dan banyak hal lainnya bagi pengguna internet Indonesia. Di Kaskus, kita dapat melihat solidaritas yang tinggi dari para user. Terbukti pada tahun 2008 saat data-data Kaskus dicuri oleh cracker dan yang tersisa hanyalah judul thread, para kaskuser bahu membahu melengkapi judul thread tersebut dengan body kontennya. Tidak hanya itu, kita juga dapat melihat bahwa konten yang diposting oleh kaskuser pasti dikerubungi oleh kaskuser lainnya.

Komentar pertama selalu berbunyi “Pertamax”. Lalu, ada juga canda tawa kaskuser yang diselingi dengan kata-kata khas Kaskus yakni Pertamax, Sundul gan !, Cendol, dan sebagainya. Selain itu, jangan lupa pula pada emotikon Kaskus yang terlihat rese’, nyebelin, tapi ngangenin.
Semoga Andrew Darwis dapat semakin mengembangkan Kaskus di jagat internet Indonesia. So, sundul gan !
Subscribe to this Blog via Email :